Lompat ke isi utama

Berita

“Bawaslu Matim On Point”: Menggeser Paradigma Kehumasan, dari Dikenal Menuju Dipercaya

Foto Humas Bws Matim

Manggarai Timur — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Manggarai Timur mulai menggeser paradigma kehumasan dari sekadar membangun pengenalan publik terhadap lembaga menuju upaya membangun kepercayaan publik. Pergeseran tersebut diwujudkan melalui Bawaslu Matim On Point, sebuah pola komunikasi publik yang dirancang untuk menghadirkan informasi pengawasan secara lebih terarah, konsisten, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Selama ini, keberadaan lembaga dalam ruang publik sering kali diukur dari seberapa sering lembaga terlihat dan seberapa banyak aktivitas yang dipublikasikan. Namun, bagi Bawaslu Manggarai Timur, dikenal saja tidak cukup. Kehumasan perlu bergerak lebih jauh, yakni membantu publik memahami apa yang dikerjakan lembaga, mengapa hal tersebut dilakukan, serta bagaimana masyarakat dapat berinteraksi dan mengambil bagian dalam pengawasan pemilu.

Karena itu, Bawaslu Matim On Point tidak dirancang sekadar sebagai saluran publikasi kegiatan Bawaslu. Ia dibangun sebagai pola komunikasi yang menempatkan kebutuhan pemahaman publik sebagai titik berangkat.

“Bawaslu on Point” merupakan satu bentuk komunikasi tematis dengan tujuh cara pandang berbeda yang diposting secara konsisten selama sepekan. Publikasi media sosial tidak lagi bertumpu pada kegiatan kantor semata tetapi membahas satu topik tertentu dalam sepekan yang dikemas dalam tujuh perspektif publikasi dengan fungsi konseptual sebagai: pemahaman/edukasi, transparansi, dialog, simplifikasi,verifikasi, humanisasi dan refleksi. Fungsi konseptual itu dikemas dalam 7 hari publikasi dengan nomenklatur masing-masing. (Kata Kordiv HP2H yg membidangi humas)

Satu Topik, Tujuh Cara Melihat

Salah satu pendekatan utama Bawaslu Matim On Point adalah mengembangkan satu topik menjadi tujuh cara melihat dalam satu pekan.

Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa satu informasi tidak selalu cukup disampaikan melalui satu bentuk atau satu sudut pandang. Publik membutuhkan informasi yang dapat menjawab berbagai kebutuhan: memahami persoalan, melihat proses kerja, memperoleh ruang bertanya, mendapatkan penjelasan sederhana, melakukan verifikasi, mengenal manusia di balik kerja kelembagaan, hingga mengambil waktu untuk merefleksikan maknanya.

Karena itu, komunikasi Bawaslu Manggarai Timur dikembangkan dalam tujuh serial yang hadir sepanjang pekan.

Senin, “Ngerti Pemilu” diarahkan untuk membantu publik memahami konsep, aturan, tahapan, dan berbagai persoalan kepemiluan secara sederhana.

Selasa, “Jejak Pengawasan” memperlihatkan proses dan aktivitas pengawasan. Publik tidak hanya diberi tahu bahwa Bawaslu bekerja, tetapi diajak melihat jejak kerja tersebut.

Rabu, “Tanya Humas” membuka ruang komunikasi dua arah. Pertanyaan publik ditempatkan sebagai bagian penting dari komunikasi kelembagaan, bukan sekadar respons terhadap informasi yang telah disampaikan.

Kamis, “60 Detik Paham” menyederhanakan persoalan kepemiluan yang kompleks menjadi informasi singkat dan mudah dipahami.

Jumat, “Cek Dulu” diarahkan untuk membangun kebiasaan verifikasi. Pesan yang dibangun bukan agar publik menerima informasi begitu saja, tetapi membiasakan masyarakat untuk memeriksa sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.

Sabtu, “Di Balik Pengawasan” menghadirkan sisi manusia dari kerja pengawasan. Di balik institusi terdapat orang-orang yang bekerja, mengambil keputusan, menghadapi persoalan, dan menjalankan tanggung jawab pengawasan.

Sementara Minggu, “Sejenak Berpikir” menjadi ruang refleksi mengenai pemilu, demokrasi, pengawasan, dan posisi masyarakat sebagai bagian dari kehidupan demokratis.

Ketujuh serial tersebut memiliki fungsi yang berbeda, tetapi dibangun dalam satu arah yang sama: membangun hubungan komunikasi yang memungkinkan publik tidak hanya mengetahui keberadaan Bawaslu, tetapi memahami, berinteraksi, dan pada akhirnya memiliki alasan untuk mempercayai lembaga.

Dari Frekuensi Publikasi Menuju Konsistensi Komunikasi

Pergeseran paradigma tersebut juga mengubah cara Bawaslu memandang aktivitas kehumasan.

Ukuran keberhasilan tidak semata-mata terletak pada jumlah konten yang diproduksi, banyaknya kegiatan yang diberitakan, atau seberapa sering Bawaslu muncul di media sosial. Yang lebih penting adalah apakah komunikasi tersebut memberikan nilai bagi publik.

Dengan pola satu topik, tujuh cara melihat, sebuah tema tidak berhenti setelah satu kali dipublikasikan. Tema yang sama dapat dibicarakan dari berbagai perspektif sepanjang pekan sehingga publik memiliki kesempatan untuk memahami persoalan secara lebih utuh.

Pendekatan ini sekaligus membangun konsistensi komunikasi. Kehadiran Bawaslu di ruang publik tidak bergantung pada ada atau tidaknya sebuah kegiatan seremonial. Komunikasi dibangun sebagai proses yang berlangsung secara berkelanjutan.

Hal tersebut penting karena kepercayaan publik tidak terbentuk melalui satu konten, satu kegiatan, atau satu kampanye komunikasi. Kepercayaan tumbuh melalui pengalaman yang berulang ketika publik menemukan bahwa lembaga hadir secara konsisten, terbuka terhadap pertanyaan, mampu menjelaskan pekerjaannya, dan memberikan informasi yang dapat diperiksa.

Bukan Sekadar Membuat Bawaslu Terlihat

Melalui Bawaslu Matim On Point, Bawaslu Manggarai Timur ingin mengubah orientasi komunikasi dari “apa yang ingin disampaikan lembaga” menjadi “apa yang perlu dipahami publik.”

Dengan demikian, konten tidak dibuat semata-mata agar Bawaslu terlihat aktif. Konten diarahkan agar masyarakat menjadi lebih mampu memahami pemilu dan pengawasan.

Prinsip tersebut menjadi penting di tengah ruang informasi yang semakin padat. Publik berhadapan dengan berbagai informasi, opini, komentar, dan narasi yang beredar hampir tanpa batas. Dalam situasi seperti itu, kehadiran lembaga publik tidak cukup hanya dengan menyampaikan informasi. Lembaga juga perlu membangun kredibilitas melalui cara berkomunikasi yang konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bawaslu Matim On Point karena itu ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun reputasi kelembagaan melalui komunikasi yang konsisten.

Tujuannya sederhana, tetapi membutuhkan proses yang panjang: ketika masyarakat berhadapan dengan persoalan kepemiluan, mereka tidak hanya mengenal Bawaslu sebagai sebuah lembaga, tetapi menjadikan Bawaslu sebagai salah satu rujukan yang layak dipercaya.

Dari Dikenal, Dipahami, hingga Dipercaya

Pergeseran paradigma kehumasan yang dibawa Bawaslu Matim On Point pada akhirnya bukan sekadar perubahan nama, format, atau jadwal publikasi.

Ini adalah perubahan cara memandang hubungan antara lembaga dan publik.

Dikenal adalah awal. Dipahami adalah proses. Dipercaya adalah hasil yang ingin dibangun.

Karena itu, Bawaslu Matim On Point tidak meminta publik untuk percaya begitu saja. Kepercayaan dibangun dengan memberikan ruang kepada publik untuk melihat, memahami, bertanya, memeriksa, dan menilai.

Melalui satu topik yang dilihat dari tujuh perspektif dalam satu pekan, Bawaslu Manggarai Timur ingin menjadikan komunikasi publik bukan hanya sebagai aktivitas menyampaikan informasi, tetapi sebagai proses membangun hubungan kelembagaan yang lebih terbuka, konsisten, dan bermakna.

Dari dikenal menuju dipahami.

Dari dipahami menuju dipercaya.

Dan dari dipercaya menuju partisipasi publik yang lebih kuat dalam mengawal demokrasi.

Bawaslu Matim On Point.

Satu Topik. Tujuh Cara Melihat.

Dari Dikenal Menuju Dipercaya.

 

Penulis: Maksimilianus Ukut

Editor: Humas Bws Matim